Renamon - Digimon Daigaku no Peeji: Vocaloid Fanfiction #1 - Kesalahpahaman Diantara Kita

Jumat, 12 Oktober 2012

Vocaloid Fanfiction #1 - Kesalahpahaman Diantara Kita


 Sebelumnya, terima kasih sudah mampir untuk baca fanfic ini di blog saya _ _. Sebenarnya ini fanfic yang dikerjakan sekitar 1 - 2 tahun yang lalu di facebook saya (dan sampai sekarang belom selesai xD). Dan belakangan ini saya kena racun Vocaloid lagi, jadi saya memutuskan untuk melanjutkan fanfic ini dan memberikan perbaikan di sana-sini (terutama pada bagian terjemahan lagu). 

Ah, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Hadyan Arisyi yang sudah tega untuk mengubah lokasi konser pada fanfic ini, yang pada akhirnya tak ingin saya rubah lokasinya xD. (Woi udah woi curhatnya!)

Baiklah~, selamat menikmati fanfic ini dan jangan lupa kasi kripik, eh kritik dan saran :D



Part 1 : Kesalahpahaman Diantara Kita


Suatu malam setelah konser Vocaloid di Kelapa Dua, Jawa Barat, Indonesia.

“Bagaimana sih!? Seharusnya ‘kan kamu bisa menyesuaikan suaraku! Untung para penonton tadi tidak terlalu memperhatikan kesalahan kita tadi!” Rin sejak tadi mengomel karena penampilan terakhirnya tadi agak sedikit terganggu karena suara Len yang sedikit serak.

 “Ehrrkk .. Kamu sendiri tadi koreografinya agak berantakan. Untung aku bisa mengikuti gerakanmu, uhuk uhuk.” Len yang sejak tadi diam diomeli Rin akhirnya bicara juga, meskipun ia harus berbicara dengan tenaga ekstra karena suaranya serak.

 “Sudah sudah .. kalian kenapa malah saling menyalahkan..? Yang terpenting konser hari ini berjalan lancar ‘kan?” Kaito selaku ketua Vocaloid berusaha menenangkan mereka. 

“Iya,lagipula  besok kita masih ada konser, tidak mungkin ‘kan kalian akan tampil di depan fans kalian dengan kondisi seperti itu? Miku menambahkan. Semua terdiam kembali. Tak satupun dari mereka bicara. 

Len berdiri dari tempat duduknya. “Mau kemana Len?” Tanya Luka.

 “Ahrr.. Aku mau istirahat. Tapi aku tidak yakin besok aku dapat tampil dengan baik dengan kondisiku yang seperti ini.” Len berjalan menuju pintu keluar ruang rapat dengan langkah gontai. 

“Ya! Kamu memang sebaiknya tidak tampil besok. Kamu hanya akan menggangguku!” Teriak Rin dari kejauhan. 

JDEEER!. Len terdiam sejenak, ia menghentikan langkahnya. Hatinya seperti disayat-sayat mendengar perkataan Rin. Selama ini belum pernah Len melihat saudara kembarnya marah sampai seperti itu. “Yaa.. maafkan aku .. uhuk ..” Len berjalan lagi. 

Ia keluar dari ruang rapat. BLAM!. Pintu ruang rapat dibanting oleh Len. “Rin! Apa apaan kamu membentak Len sampai seperti itu!? Kamu kira mudah menyanyi dengan suara serak seperti itu!?” Miku naik darah. Ia tidak terima Len diperlakukan seperti itu. Miku tahu Len yang belakangan ini latihan terlalu keras untuk mempersiapkan konser tahun ini dengan sebaik baiknya. 

“Itu kan salah dia sendiri, kenapa suaranya sampai serak. Pasti dia terlalu banyak minum air es.” Rin bicara dengan nada ketus. 

“Apa katamu!? Sebenarnya di-” belum sempat Miku menyelesaikan kata katanya Kaito dan Luka memegang bahunya dan menahannya. Mereka berdua tersenyum, seolah berkata “Jangan katakan, biarkan ia mengerti sendiri.”.
“Apa? Sebenarnya apa?” Tanya Rin. Tetapi Miku terdiam, ia mengerti isyarat yang diberikan Kaito dan Luka.

 “Huh, ya sudah kalau kamu tidak mau memberitahu, lagipula itu pasti bukan hal yang penting sampai aku perlu mendengarnya” Rin pun pergi meninggalkan Miku, Kaito, dan Luka di ruang rapat. 

“Kai-chan, apa tidak apa apa seperti ini? Aku khawatir mereka tidak akan berbaikan seperti semula” Tanya Miku pada Kaito. Ia menatap mata Kaito. 

“Tidak apa apa, kita lihat saja nanti.” Kaito tersenyum. 

“Waaaa!! Senyum Kai-chan memang nomor satuuu!!” Miku memeluk Kaito. 

“Eh eh, hei Miku, hentikan. Bisa bahaya kalau sampai ketahuan Meiko.” Kaito panik dan segera melepas pelukan Miku.

Sementara itu, Len yang tidak jadi istirahat pergi berjalan jalan keluar. Sepanjang jalan ia terus memikirkan kata kata Rin. Len terus berjalan tanpa arah. Dan akhirnya ia berhenti di sebuah jembatan. Ia menyanyikan sebait lagu milik Miku : 

Arigatou sayonara  (terima kasih, selamat tinggal)
Setsunai kata omoi  (sebuah pahit cinta yang bertepuk sebelah tangan)
Ashi wo tome tara omoidashite shimau, dakara  (jika aku berhenti melangkah sekarang, mungkin aku akan mengenang masa lalu kita, jadi)
Arigatou sayonara
(terima kasih, selamat tinggal)
Naitari shinai kara 
(aku tak akan menangis sama sekali)
Sou omotta totan ni fuwari 
(saat aku memikirkannya)
Maiorite kuru yuki (dengan lembut, salju mulai turun)
Furetara tokete kieta 
(dan ketika kusentuh, salju itu larut dan menghilang)
 Hajimete no Koi ga Owaru Toki (Ketika Cinta Pertama Berakhir)

Sambil menyanyi, Len mengingat kenangan tentang dirinya dan Rin. Ia ingat ketika pertama kali mereka berlatih Vokal dengan Miku dan Meiko. Ia juga ingat ketika konser pertamanya sukses. Kaito mentrakir makan seluruh Vocaloid Member, saat itu Len pesan semangkuk besar ramen dan ia menyuapi ramen tersebut kepada Rin. Ia ingin kembali ke tempat Rin dan teman-temannya. Tapi sepertinya saudara kembarnya tak akan mau menerimanya lagi. Len terus menatap sungai yang memantulkan bayangannya.

Rin yang sejak tadi sudah kembali ke kamarnya. Terus berpikir, ia sadar kalau kata katanya sudah keterlaluan sampai menyakiti hati Len. Ia melirik tempat tidur Len yang terletak di sebelah tempat tidurnya. “Len belum kembali …Apakah dia kabur?”.”Apakah dia marah karena kata-kataku yang keterlaluan tadi?”. Banyak kemungkinan buruk yang terlintas di benak Rin. Tapi ia ingin menyingkirkannya. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Len. Terakhir kali ia memikirkan sesuatu yang buruk terjadi pada Len, hal itu benar benar terjadi.

 Saat itu, ketika Len, Rin dan Miku selesai latihan Vokal bersama Kaito dan Meiko. Len minta ijin pulang duluan karena ia ingin mengunjungi temannya terlebih dahulu. Tetapi sampai malam tiba, Len belum kembali. Rin yang khawatir berpikir bahwa Len kecelakaan karena sampai malam Len belum pulang. Dan benar saja, sesaat kemudian Rin mendapat telepon dari Meiko, Meiko memberitahu Rin bahwa Len tertabrak mobil ketika akan menyeberang. Tapi untung saja lukanya tidak terlalu parah. 

Rin tidak ingin hal seperti itu terulang kembali. Karena meskipun Len agak bandel, sering bolos latihan, dan sering melanggar larangan bagi Vocaloid (seperti minum minuman dingin terlalu banyak, atau makan makanan yang berbumbu kuat). Rin tetap menyayangi saudara kembarnya itu. Tanpa sadar air mata Rin mengalir dan ia bernyanyi :

Nagarete iku   chiisana negai  (kenangan kecil itu semakin menjauh)
Namida to sukoshi no RIGURETTO  (bersama dengan air mata dan sedikit penyesalan)
Tsumi ni kizuku no wa itsumo   (selalu saja, kusadari dosa yang kuperbuat)
Subete owatta ato  (setelah semuanya terlambat)     
Riguretto Messeeji (Pesan Penyesalan)

                    “Ah, sudah larut malam, aku harus mencari Len!” Rin menyeka air matanya dan berlari. Di lobi Rin berpapasan dengan Miku, Kaito, dan Luka yang baru saja keluar dari ruang rapat.

                     “Ah, mau kemana Rin-chan?” Tanya Miku ketika ia melihat Rin yang tergesa gesa keluar dari kamarnya.

                    “A .. aku mau mencari Len, aku ingin minta maaf atas apa yang sudah kukatakan padanya!” Sambil terus berlari Rin berteriak. Semakin jauh dan hanya tinggal siluetnya yang terlihat oleh Miku.
                     “Tuh kan, apa kataku ..” Kaito mengedipkan sebelah matanya. Mereka bertiga pun akhirnya tertawa bersama.

                    “A .. aku tidak tahu dimana Len, tapi aku harus menemukan Len dan segera minta maaf .“Rin berlari tanpa arah. Tetapi perasaannya yang terhubung dengan Len membuatnya tahu ia harus pergi kemana. Rin akhirnya sampai di sebuah jembatan. Samar samar ia mendengar suara Len yang sedang bernyanyi. Rin semakin mendekat, memastikan bahwa orang itu benar Len. Semakin dekat .. semakin jelas apa yang dinyanyikan oleh Len :

Tooku tooku hatenaku meguriyuku sadame  (takdirku berputar semakin jauh, tanpa ada akhirnya)
kaketa KOKORO sagashite atemonaku samayou  (ku berjalan tanpa arah untuk menemukan serpihan hatiku)
kawaita tamashii sae uruosu utagoe  (lagu yang membasahi hatiku yang kering)
yakitsuite hanarenai  (hangus di dalamnya, tak akan pernah terpisah)
kimi no egao wo mitsukeru hi made...  (sampai nanti kulihat senyummu) 
Kimi wo Sagasu Sora (Mencarimu di Langit)

                    “Len!! Dimana kamu..?!” Teriak Rin sambil terus berlari.

                    Samar samar Len mendegar suara Rin. “Ah, apakah aku baru saja mendengar suara Rin? Atau jangan jangan itu hanya halusinasiku saja." Len menengok ke sebelah kirinya, tak ada orang … sebelah kanan, tak ada juga.

                    “Hanya perasaanku saja ..” Len menghembuskan nafas panjang. Tapi semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Tak hanya itu.. semakin jelas kalau suara itu sedang menyanyikan sebuah lagu :

Puhaa...dou shiyou  ano ne, jitsu wa ne...  (Fuh .. apa yang harus kulakukan. Hei, sebenarnya …)
Dame da, yappari kowai no  (Ugh, aku tidak bisa mengatakannya, aku terlalu takut)
Su, su, su su, su su, su...su  (su, su, su su, su su, su...su)
Suki, daaisuki!!!!  (Aku suka padamu, Aku sangat menyukaimu!!!)   
Su-Su-Su-Su-Suki!!Daisuki!!! (Su-Su-Su-Su-Suka! Sangat menyukaimu!!!)

                    “Waaaaaaa!” Len kaget karena tiba tiba Rin menepuk bahunya dari belakang. Seketika Len membalikkan badannya. Terlihat wajah Len langsung merah padam seperti kepiting rebus.

                    “Pffft.. Ahahahahaha.” Rin tertawa melihat wajah Len yang mendadak berubah seperti kepiting rebus.
                   
                     “Aa .. apa kamu ketawa ketawa? Bukankah tadi kamu marah padaku?” Len menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak ingin terlihat memalukan di depan Rin.

                     “Hahahaha, tadi ya tadi .. Sekarang aku tidak marah kok, aku ingin minta maaf ..” Rin menggenggam kedua telapak tangan Len dan menyingkirkannya dari wajah Len.

                    “Tidak mungkin, kamu pasti bohong.” Setengah tidak percaya Len mendengar kata-kata Rin tadi. Len membuang pandangannya dari wajah Rin.

                    “Apa wajahku mengatakan kalau aku berbohong?” Rin memegang kedua pipi Len dan menghadapkan wajah Len ke wajahnya. Len melihat wajah Rin yang tersenyum. Itu cukup untuk membuktikan kalau Rin sudah tidak marah padanya.

                    ”Maafkan aku ya, aku sudah berbicara yang tidak enak padamu.” Rin memeluk Len. “A.. wa .. wa .. wa .., Rin, lepaskaaan.” Len tidak menyangka bahwa dirinya akan dipeluk oleh Rin. tapi ia tidak melawan.

                     “Aku memarahimu karena aku tidak ingin konser kita sampai gagal, tapi .. kurasa aku berlebihan memarahimu.” Kata Rin, Len tersenyum dan berkata

                    “Yaa, suaraku juga serak gara gara aku terlalu banyak berlatih, aku juga tidak ingin konser kita gagal, aku ingin membuktikan pada dunia bahwa kita adalah pasangan kembar yang terbaik. Tapi kurasa aku juga terlalu berlebihan melakukannya .. “


                    Sementara itu, dari kejauhan. Miku, Kaito, dan Luka memperhatikan apa yang Len dan Rin lakukan. “Hehehe, benar kan .. mereka akan kembali seperti biasa.” Kaito tersenyum melihat junior juniornya.

                     “Hwaaaaaa, Miku juga mau dipeluuuuk!” Miku memeluk Kaito dengan erat.

                    “Eh, wah . wa .. waa.. Miku lepaskaaan ..”Kaito gelagapan karena tidak siap. Sementara itu Luka mengeluarkan kamera saku miliknya, dan .. JEPRET!!. Ia memfoto Miku dan Kaito yang sedang berpelukan.

                    “Waaaahh!! Lukaaa! Jangan kau berikan foto itu pada Meiko atau aku akan dibunuhnyaaaa!!!” Kaito berlari mengejar Luka yang buru buru berlari ke studio foto untuk mencetak foto tadi.

                    “Hwaaah!? Apa yang kalian lakukan disini?” Rin dan Len kaget melihat Miku, Kaito, dan Luka yang sedang kejar kejaran. Kaito mengejar Luka yang membawa kamera berisi foto Kaito dan Miku, sedangkan Miku mengejar Kaito karena ingin memeluknya lagi.

                    “A.. Aku rasa mereka mengikutimu sejak tadi …” kata Len terbata, masih dengan suaranya yang serak.

                    “Ayo kita kembali, akan kubuatkan minuman agar sakit tenggorokanmu cepat sembuh.” Rin menarik tangan Len dan berlari.

                    “Eh, hei Rin, bagaimana dengan mereka?” Len  menengok kearah Miku, Kaito, dan Luka yang masih saling mengejar.
                    “Tinggalkan saja mereka.” Rin menjulurkan lidahnya dan terus berlari.

1 komentar:

  1. Ceritanya keren, kak. Aku suka :)
    Sekalian tolong mampir di blog-ku ya :P masih beberapa sih ceritanya. Aku sama temenku masih pemula, jadi tolong saran+kritiknya ya ;)
    URL: boukaroido.blogspot.com/

    BalasHapus